Apakah ada perbedaan pada awal pernikahan dengan
setelah 25 tahun menikah? Tentu pada awalnya pasti begitu bergairah, seiring
perjalanan waktu bagaimana? Cerita awal pernikahan selalu baik. Bisakah kita pertahankan
sesuatu yang baik itu? Jawabannya bisa ya
atau tidak.
Ya karena selama kita hidup di dunia ini ada suatu
kemauan baik di dalam diri, dan berupaya mempertahankan hal itu. Tidak karena betapapun kita berupaya
sampai suatu titik pasti mengalami perpisahan, yaitu kematian. Sejak itu apa
yang kita anggap baik itu hilang. Banyak pasangan di dunia ini meneteskan air
mata karena persoalan ini. Menghancurkan kebersamaan yang telah mereka bangun,
kematian seperti pencuri.
Tentunya pernikahan yang baik ini kita bangun dengan
apa? Biasanya menjawab karena saling mencintai. Lalu apakah cinta itu cukup
untuk menjadikan suatu pernikahan itu baik? Sebenarnya Cinta itu tidak akan pernah cukup untuk membangun pernikahan yang
baik. Memang pada awalnya berdasarkan cinta, tapi secinta-cintanya terhadap
pasangan pasti akan terbentur dengan masalah. Manusia tidak mungkin mencintai
begitu sempurnanya karena kita manusia berdosa. Mencintai pasangan sepenuhnya
mungkin itu tugas kita yang paling berat.
Pada jaman kitab Kejadian, poligami merupakan budaya.
Tapi ada satu pasangan Ishak dan Ribka yang tidak mengikuti budaya tersebut. Kejadian
24:67, Ishak sungguh-sungguh mencintainya sepenuh hati. Setelah masa
pernikahan, lahirlah dua anak Esau dan Yakub. Pada saat itu pernikahan yang
baik itu mulai timbul masalah yaitu Ishak sayang pada Esau, tapi Ribka lebih mengasihi
Yakub, dan akhirnya terjadi perebutan hak sulung.
Tidak ada pernikahan sebaik apapun yang kebal terhadap
hal-hal buruk. Martin Luther King Jr berkata, “Dimana tidak ada cinta yang
mendalam, takkan ada kekecewaan yang mendalam”. Pernah lihat film Titanic? Rose tua berkata, “Mengapa saat-saat
yang indah itu tidak aku alami sekarang?” Coba kita perhatikan kisah cinta
mereka di kapal itu begitu indah.
Mengapa awal-awal yang baik, akhirnya seperti itu?
Alasannya:
1.
Harapan yang tak
terpenuhi. Harapan menikah tentu bahagia selama-lamanya. Sekarang tanyakan
apakah kalian bahagia? Tentunya didalam pernikahan tidak berhenti pada itu
saja, karena tentu saja banyak harapan yang lain. Berapa banyak harapan di awal
yang sudah diraih? Jangan kaget akan banyak hal yang belum dicapai.
2.
Tidak memeriksa
diri. Kehidupan yang tidak pernah intropeksi, tidak layak dijalani. Pertama, diri
yang buta, dikenali oleh pasangan anda, tetapi kita sendiri tidak pernah
menyadari. Kedua, diri yang tersembunyi, apa yang kita tahu tentang diri
sendiri, tetapi pasanganmu tidak tahu. Betapa banyak dalam pasangan setelah
menikah di buat kaget! Bila kita menjalani kehidupan seperti itu, maka tidak
baik. Karena dari itu kita harus intropeksi.
3.
Pasangan yang
kurang terampil. Contoh, keluarga dalam kesulitan keuangan, penghasilan hanya
habis bulan lepas bulan. Hal ini ketika kita jalani begitu saja tanpa ada
perubahan cara kerja kita, pasti akan menjadi masalah. Seringkali membiarkan
dan tidak mau belajar. Kalau kita tahu diri kita kurang dalam terampil,
belajarlah sedikit. Kenapa kita tidak mencoba, bila itu dapat membuat hubungan
lebih baik.
4.
Pilihan-pilihan
yang tidak sehat. Setiap hari kita mengambil pilihan, dan pilihan yang diambil menentukan jalan hidup. Contoh
sederhana, pilihan berlibur tujuannya untuk bersenang-senang bukan? Belum
tentu! Kadang kita cekcok masalah baju, tempat makan, hotel dan macam-macam hal
bisa terjadi. Padahal di dalam hidup kita ada banyak pilihan yang tingkatannya
lebih tinggi. Pada waktu terpilih yang salah, itu bisa berbahaya. Perhatikan,
sesusah atau semudah apapun yang dipilih harus benar-benar dengan tujuan
memuliakan Tuhan.
5.
Keadaan-keadaan
yang tidak dapat diprediksikan. Bagaimanapun kita memprediksi dan menata masa
depan, manusia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di depan. Contoh kecelakaan,
kematian, penyakit, terjerumus, dan lain-lain.
Ishak dan Ribka juga mengalami hal-hal seperti diatas.
Kita hanya bisa berdoa meminta bimbingan dan kekuatan dari Tuhan. Mulailah
untuk menata hidup saudara dengan lebih baik, walaupun kita tidak tahu kapan
maut datang. Ada satu tips, kita harus mencoba melihat situasi ketika
bertengkar, ada kalanya salah satu diam, ketika yang satu marah jangan dilawan,
ketika agak tenang baru di bicarakan. Kalau hanya memaksakan pada satu pihak
saja itu tidak baik. (rob)