Sunday, September 8, 2013

Ketika Hal-hal yang Buruk Terjadi Pada Pernikahan yang Baik


Apakah ada perbedaan pada awal pernikahan dengan setelah 25 tahun menikah? Tentu pada awalnya pasti begitu bergairah, seiring perjalanan waktu bagaimana? Cerita awal pernikahan selalu baik. Bisakah kita pertahankan sesuatu yang baik itu? Jawabannya bisa ya atau tidak.

Ya karena selama kita hidup di dunia ini ada suatu kemauan baik di dalam diri, dan berupaya mempertahankan hal itu. Tidak karena betapapun kita berupaya sampai suatu titik pasti mengalami perpisahan, yaitu kematian. Sejak itu apa yang kita anggap baik itu hilang. Banyak pasangan di dunia ini meneteskan air mata karena persoalan ini. Menghancurkan kebersamaan yang telah mereka bangun, kematian seperti pencuri.

Tentunya pernikahan yang baik ini kita bangun dengan apa? Biasanya menjawab karena saling mencintai. Lalu apakah cinta itu cukup untuk menjadikan suatu pernikahan itu baik? Sebenarnya Cinta itu tidak akan pernah cukup untuk membangun pernikahan yang baik. Memang pada awalnya berdasarkan cinta, tapi secinta-cintanya terhadap pasangan pasti akan terbentur dengan masalah. Manusia tidak mungkin mencintai begitu sempurnanya karena kita manusia berdosa. Mencintai pasangan sepenuhnya mungkin itu tugas kita yang paling berat.

Pada jaman kitab Kejadian, poligami merupakan budaya. Tapi ada satu pasangan Ishak dan Ribka yang tidak mengikuti budaya tersebut. Kejadian 24:67, Ishak sungguh-sungguh mencintainya sepenuh hati. Setelah masa pernikahan, lahirlah dua anak Esau dan Yakub. Pada saat itu pernikahan yang baik itu mulai timbul masalah yaitu Ishak sayang pada Esau, tapi Ribka lebih mengasihi Yakub, dan akhirnya terjadi perebutan hak sulung.

Tidak ada pernikahan sebaik apapun yang kebal terhadap hal-hal buruk. Martin Luther King Jr berkata, “Dimana tidak ada cinta yang mendalam, takkan ada kekecewaan yang mendalam”. Pernah lihat film Titanic? Rose tua berkata, “Mengapa saat-saat yang indah itu tidak aku alami sekarang?” Coba kita perhatikan kisah cinta mereka di kapal itu begitu indah.

Mengapa awal-awal yang baik, akhirnya seperti itu? Alasannya:
1.     Harapan yang tak terpenuhi. Harapan menikah tentu bahagia selama-lamanya. Sekarang tanyakan apakah kalian bahagia? Tentunya didalam pernikahan tidak berhenti pada itu saja, karena tentu saja banyak harapan yang lain. Berapa banyak harapan di awal yang sudah diraih? Jangan kaget akan banyak hal yang belum dicapai.

2.     Tidak memeriksa diri. Kehidupan yang tidak pernah intropeksi, tidak layak dijalani. Pertama, diri yang buta, dikenali oleh pasangan anda, tetapi kita sendiri tidak pernah menyadari. Kedua, diri yang tersembunyi, apa yang kita tahu tentang diri sendiri, tetapi pasanganmu tidak tahu. Betapa banyak dalam pasangan setelah menikah di buat kaget! Bila kita menjalani kehidupan seperti itu, maka tidak baik. Karena dari itu kita harus intropeksi.

3.     Pasangan yang kurang terampil. Contoh, keluarga dalam kesulitan keuangan, penghasilan hanya habis bulan lepas bulan. Hal ini ketika kita jalani begitu saja tanpa ada perubahan cara kerja kita, pasti akan menjadi masalah. Seringkali membiarkan dan tidak mau belajar. Kalau kita tahu diri kita kurang dalam terampil, belajarlah sedikit. Kenapa kita tidak mencoba, bila itu dapat membuat hubungan lebih baik.

4.     Pilihan-pilihan yang tidak sehat. Setiap hari kita mengambil pilihan, dan pilihan yang  diambil menentukan jalan hidup. Contoh sederhana, pilihan berlibur tujuannya untuk bersenang-senang bukan? Belum tentu! Kadang kita cekcok masalah baju, tempat makan, hotel dan macam-macam hal bisa terjadi. Padahal di dalam hidup kita ada banyak pilihan yang tingkatannya lebih tinggi. Pada waktu terpilih yang salah, itu bisa berbahaya. Perhatikan, sesusah atau semudah apapun yang dipilih harus benar-benar dengan tujuan memuliakan Tuhan.

5.     Keadaan-keadaan yang tidak dapat diprediksikan. Bagaimanapun kita memprediksi dan menata masa depan, manusia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di depan. Contoh kecelakaan, kematian, penyakit, terjerumus, dan lain-lain.

Ishak dan Ribka juga mengalami hal-hal seperti diatas. Kita hanya bisa berdoa meminta bimbingan dan kekuatan dari Tuhan. Mulailah untuk menata hidup saudara dengan lebih baik, walaupun kita tidak tahu kapan maut datang. Ada satu tips, kita harus mencoba melihat situasi ketika bertengkar, ada kalanya salah satu diam, ketika yang satu marah jangan dilawan, ketika agak tenang baru di bicarakan. Kalau hanya memaksakan pada satu pihak saja itu tidak baik. (rob)