Lukas 2: 8-20, perayaan Natal sudah demikian bagus, lalu apakah masih
merasakan Natal lagi Natal lagi? Bila
seperti itu pasti akan mengalami stagnanisasi dalam hidupmu. Lalu apakah tahun
depan tidak usah merayakan Natal? Karena merasa gitu-gitu aja, gak ada bedanya.
Perasaan ini bisa dialami banyak orang dengan berbagai profesi hidup. Merasa
eneg karena tidak ada perbedaaannya, mengulangi sebuah rutinitas. Contoh tiap
hari bangun, mandi, makan, bekerja, makan, mandi, pulang, kemudian tidur lagi,
sungguh rasanya hidup berputar disana. Ketika tidak ada sesuatu baru yang
menyentuh hidup kita, itu pasti terjadi.
8 Juni 2008 di Chiyoda Tokyo Jepang ada sebuah tragedi
tak terduga. Seorang pemuda berumur 28 tahun bernama Tomohiro Kato menabrakan
truk yang dikemudikannya di tengah kerumunan orang, kemudian turun, dan menusuk
orang yang ada di sekitarnya. Ketika tertangkap dan di wawancara, ia mempunyai
motif yang mengherankan banyak orang. Katanya, “Hidup Cuma begitu-begitu saja,
membosankan. Saya sangat lelah dalam menjalani hidup.”. Apakah kebosanan anda
sudah mencapai pada titik si Kato? Bila terus menerus bekerja dalam kondisi
seperti itu, dijamin akan mengalami kebosanan.
Coba dibandingkan apa yang kau lakukan saat ini dengan
pekerjaan sebagai Gembala pada jaman Yesus, enak mana? Gembala merupakan
profesi yang dianggap remeh, dan dipandang sebagai manusia kelas bawah. Setiap harinya
mereka bangun subuh, melepaskan domba, mengatur, memberi makan, mengatur domba,
kemudian menunggu sampai malam, dan pulang kembali. Bisa dibilang pekerjaan
mereka hanya bertemu dengan domba, dan rumput. Tapi ketika para Gembala bertemu
dengan bayi Yesus, sejak itu cara hidup mereka berubah, karena ada sukacita,
suatu perjumpaan dengan Kristus yang sangat luar biasa. Apakah yang dapat
dipelajari melalui peristiwa ini?
Pergilah dari tempat dimana anda sekarang berada. Bukan
berarti berpindah lokasi atau profesi dimana anda sekarang berada. Kalaupun tinggal
dan bekerja di tempat berbeda pasti juga akan mengalami kebosanan. Yang benar harus
keluar dari hidupmu yang lama, dengan berjumpa dengan Kristus, engkau akan
menikmati hidupmu. Sejak saat itu hidupmu pasti berubah.
Tak lupa juga menurut ayat 17, untuk membagikan
pengalaman hidup pada orang lain. Kenapa kita mengalami perasaaan jenuh? Sering
kali kita berpikir hanya kita saja yang merasa jenuh. Padahal semua pasti
pernah merasakan. Kalau anda merasa hanya anda saja yang dapat merasa bosan,
itu adalah masalah. Ceritakan permasalahanmu itu lebih baik. Hingga suatu saat
akan mengalami suatu terobosan hidup seperti para Gembala, memberitakan
kesukacitaan bertemu Juru Selamat.
Sesuai dengan ayat 20, penuhilah hidupmu dengan
puji-pujian, dan perbuatan yang memuliakan Allah. Setiap kali engkau merayakan
Natal, apa yang engkau lihat, dengar, dan lakukan akan mempengaruhi sikap, dan
tujuan hidupmu ke depan. Lambat laun kedekatan pada Yesus akan semakin intim,
dan akan mempengaruhi cara pandang kita terhadap kehidupan.
Memuliakan Allah itu bagaimana? Ketika engkau
mempunyai opini yang baik kepada Tuhan. Itulah memuliakan. Contoh tidak
mencurigai sesuatu yang buruk kepada Tuhan. Jadilah seperti Ayub, walaupun
segala sesuatu yang ada pada dirinya diambil termasuk semua anak-anaknya, Ayub
tidak pernah mencurigai Allah. Umumya kita berpendapat jelek, kalau doa tidak
terkabulkan. Walaupun sesudah Gembala bertemu Yesus, profesi mereka ya tetap
Gembala, namun tidak ada suatupun opini negatif yang keluar. Allah bekerja
didalam segala sesuatu, diluar pemikiran manusia, dan tujuannya untuk kebaikan.
Jangan pernah beropini negatif!
Apakah opini saudara tentang Tuhan? Bila engkau
mempunyai opini yang baik maka tidak ada perasaan Natal lagi Natal lagi. Engkau datang ibadah Natal? Adakah engkau
datang untuk berjumpa dengan Kristus. Perjumpaan dengan-Nya adalah satu satunya
jalan untuk keluar dari rutinitas hidup. Tujuan utama perayaan kelahiran
Kristus yang tiap tahun dirayakan bukan untuk mengulang, tetapi membuat
perubahan kearah hidup yang lebih baik. (rob)
