Tidak semua anak dapat mengungkapkan isi hati.
Beberapa kasus kemarahan anak kepada orang tua akibat dari orang tua menuntut, memaksa,
dan membanding-bandingkan tanpa melihat kemampuan anak. Nilai 9 dan 10 bukanlah
standard kepintaran, mungkin dia mempunyai talenta yang lain. Sering kali tidak
melihat talenta anak dan hanya memaksa. Orang tua terlalu sibuk, sehingga tidak
tahu perkembangan anak. Perenungan awal yang harus kita ingat yaitu :
1. Melihat anak adalah anugerah Tuhan.
2. Tuhan punya BIG PLAN pada masing-masing anak.
3. Setiap anak berbeda (sifat, cara belajar,
kemampuan, bakat, dll).
Andreas dan Petrus bersaudara. Andreas bertobat
terlebih dahulu daripada Petrus, tetapi di dalam kitab Perjanjian Baru Petrus
lebih banyak tampil. Lalu apakah Yesus pernah membandingkan mereka. Amsal 29:17,
Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan
ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. Dianjurkan untuk
mendidik, mengajar, dan mendisiplinkan. Efesus 6:4, Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Jadi
apapun yang dikatakan orang tua akan membentuk pribadi anak tersebut.
Harusnya kita menolong anak untuk tetap berada dalam
ajaran Tuhan. Menolong anak menemukan potensi dirinya sebagai bentuk tanggung
jawab kepada Tuhan. Menolong anak untuk menjadi seperti yang Tuhan mau. Orang
tua lebih keras kepada anak-anak ketika bolos ke sekolah, daripada bolos ke
Gereja.
Cara sederhana kita menolong anak menemukan potensi
dirinya:
1. Miliki waktu bersamanya untuk melihat tingkah
lakunya.
2. Perhatikan kegiatan apa yang sering dilakukannya
atau lebih berminat pada hal-hal apa?
3. Memberikan berbagai macam stimulus atau rangsangan
pada anak.
No comments :
Post a Comment