Pentateuch berasal dari bahasa Yunani “Pentateukhos” berarti
kitab berisi lima kotak, atau terdiri dari lima gulungan (Kejadian, Keluaran,
Imamat, Bilangan dan Ulangan).
Hidup Manusia dari dulu hingga sekarang diliputi oleh DOSA,
mampukah anda hidup sebagai GOD’s People.
Berawal dari Adam dan Hawa (Kejadian 3:6), Kain membunuh Habel (Kejadian 4:8), menara BABEL (Kejadian 11: 1-9), hingga
sekarang seperti hiburan malam, narkotika, mabuk, sex bebas, uang dan lain.
Bila dalam keadaan terhimpit janganlah terjun kedalam dosa,
tetapi berteriaklah kepada Tuhan seperti yang dialami bangsa Israel ketika
keluar dari Mesir Keluaran 2:23-25. Tuhan mendengar (Mazmur 34:14), melihat
(Mazmur 94:9) dan peduli (Keluaran 3:9-10) atas segala permasalahan bangsa
Israel pada jaman Musa sampai permasalahan kita saat ini. Living as God’s People bukan hanya menyimpan masalahmu, tetapi
bukalah hatimu kepada Tuhan maka hatimu akan dipulihkan.
Hakekat dari dosa adalah manusia ingin menjadi Tuhan itu
sendiri. Ditengah segala dosa manusia, Tuhan masih memelihara kita melalui
Sepuluh Perintah Tuhan (Keluaran 20:3-17), yaitu :
- Jangan ada padamu Allah lain dihadapan-Ku.
- Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun. . . jangan sujud menyembah kepadanya.
- Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan.
- Ingatlah dan kuduskanlah hari sabat.
- Hormatilah ayahmu dan ibumu.
- Jangan membunuh.
- Jangan berzinah.
- Jangan mencuri.
- Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
- Jangan mengingini apapun yang di punyai sesamamu.
Pembagian sepuluh dasa titah dibagi menjadi dua. Hukum
kesatu hingga keempat ditujukan mengatur hubungan dengan Tuhan, sedangkan hukum
kelima hingga kesepuluh dipakai untuk mengatur hubungan antar sesama. Hukum
kelima “Hormatilah ayahmu dan ibumu” merupakan jembatan atas pengelompokkan dasa
titah. Mengapa seperti itu? Bila kita tidak menghormati Orang Tua kita maka
mungkin menghormati Tuhan. Keluaran 21:15,17 : “Siapa yang memukul ayahnya atau
ibunya, pastilah ia dihukum mati. Siapa yang mengutuk ayahnya atau ibunya, ia
pasti di hukum mati”. Hormatilah ayah dan ibumu tanpa syarat, tanpa mereka kita
tidak dapat lahir di dunia. Mengapa? Ada tiga alasan, yaitu:
- Secara Teologi. Karena mereka wali kita dan mereka tidak bisa memilih. Jikalau mereka diberikan hak memilih, tentu yang dipilih bukan kita tetapi adalah anak sempurna: yang baik, pintar dan juara dalam segala bidang (Sekolah, music, olahraga, dll), kuat, bagus secara fisik, mendengarkan kata orang tua, dan lain-lain. Tetapi kitalah yang hadir sekarang ini, kalau kita dan orang tua menolak itu sama saja menentang ketetapan Tuhan.
- Secara Moral. Kita berhutang kepada mereka. Mereka yang melahirkan, menjaga, mendidik anaknya.
- Secara Praktis. Waktu kita untuk menghormati mereka terbatas. Tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil.
Dan untuk para orang tua, janganlah membangkitkan amarah
anak-anakmu tetapi didiklah mereka dengan ketetapan Tuhan (Efesus 6:4).
Kebanyakan manusia mencari sesuatu untuk kepentingan dan
kemuliaan mereka. Dalam hidup kita harus mencari kemuliaan Tuhan dan ambil
bagian dalam rencana-Nya. Keluarlah dari zona nyaman (keluaran 3:10), jangan
menjadi manusia egois. Ingatlah segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah
milik Dia (Kolose 1:16), ketika manusia meninggal tidak ada sesuatu pun hal
duniawi yang dibawa. Lalu perjalanan hidup manusia untuk apa? Lahir dari bayi,
sekolah, menikah, punya anak, bekerja, kemudian meninggal. Jadilah panggilan
Tuhan untuk melayani.
Panggilan Tuhan bukan berarti menjadi seorang Pendeta. Hal
tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bidang. Apapun profesi kita, setiap
manusia dapat dipakai untuk menjawab panggilan Tuhan. Rencana Tuhan tidak dapat
digagalkan manusia. Ketika engkau di panggil menjadi hambanya, kita tidak bisa
lari. Sama seperti Musa ketika dipanggil Tuhan untuk membebaskan orang Israel
dari Mesir, Musa selalu memakai alasan-alasan untuk menolak (keluaran 3:10-13,
keluaran 4:1). Sekali Tuhan berfirman tiada satupun manusia dapat lari. Kebanyakan
manusia hidup egois mencari kemuliaan sendiri. Dalam hidup manusia harus
mencari kemuliaan Tuhan dan ambil bagian dalam rencana-Nya.
Martin Luther King berkata, “If a man hasn’t discovered
something he is willing to die for, he is not fit to live.”. Jika manusia tidak
menemukan tujuan hidup dan siap mati untuk itu, maka apa gunanya hidup. Ready to
die and living as a God’s people. < Youth Camp 2012 SAAT>.
No comments :
Post a Comment